Jumat, 16 Agustus 2013
Fakeworld (?)
pernahkah kau berfikir akan selalu bersamanya? ya! tentunya bersama orang yang kita sayangi. pernahkah kau berfikir bahwa ini semua nyata, bukan mimpi, hayalan apalagi imajinasi. pernah kah? pernahkah? pastinya kau akan menjawab YA. pernahkah kau menyayangi seseorang yang ternyata hanya sebatas dunia permainan? dunia yang tak tentu akan ada selamanya. pastinya TIDAK, berbeda dengan ku. mungkin ini sebuah cerita yang aneh. ya aneh sekali bahkan mungkin tidak akan ada yang percaya bahwa aku pernah menyayangi seseorang di dalam dunia yang bukan dunia nyata. dunia yang tak pernah mempertemukan mata kita senyum kita dan lain sebagainya dari diri kita. YA dunia permainan remaja masa kini/? aku masih ingat betul bagaimana dulunya aku bisa memutuskan untuk bergabung dalam dunia itu. aku tak menyangka bila dunia itu sama kerasnya seperti dunia nyata ini. dunia itu .... ya FAKEWORLD. JUST FULL OF FAKE!!
Kamis, 06 Juni 2013
“Memeluk Dalam Beda”
Desiran AC
menyejukkan suasana siang hari itu. Chika menggulung rambut panjang hitamnya,
ia masih merasa gerah. Perempuan berdarah Jawa itu mencari komik dengan teliti
di sheet ke-3. Sepasang mata bulatnya fokus dan... dapat! Ia menarik komik
‘Detective Conan’ edisi 99 dari sheet
buku tetapi sebuah tangan dengan kulit langsat memegang ujung komik itu. Mereka
saling bertatapan. “Eh maaf aku kira dari sheet
ke-3 tadi buku itu nggak ada yang ambil. Ternyata kita ambilnya barengan, gue
nggak lihat”. Kata pria itu mencairkan suasana. “Oh nggak apa, ambil aja. Gue
nggak jadi beli”. Chika tersenyum tipis lalu beranjak meninggalkan Toko Buku.
Pria itu hanya mematung sejenak lalu berjalan menuju kasir untuk membeli komik
yang menjadi rebutannya dengan Chika tadi.
Chika terburu buru
menuruni anak tangga menuju ke ruang tengah. ”Kamu terburu-buru gitu sih, nak?”.
Tanya mama Chika sambil menuangkan jus jeruk ke
dalam gelas pink Chika dengan terheran-heran. “Duh ma telat nih, Chika
lupa kalo hari ini ada kuliah pagi”. Chika mengerutkan dahinya sambil meneguk
cepat jus jeruk di gelas pinknya. “Pelan-pelan minumnya Chik...” belum sempat
mamanya melanjutkan perkataan, Chika meraih tangan dan mencium tangan mamanya,
berpamitan. Tak lupa ia mencium kedua pipi mama kesayangannya. Chika nyelonong
pergi. Mamanya hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah lucu dan aneh
anaknya.
Kelas bisnis ada
dilantai 3. Mahasiswa dilarang menggunakan lift
untuk sampai ke atas. Chika menghela nafas panjang. Lalu ia berlari menyusuri
anak tangga dengan berlari. BRUKKK!! Chika terjatuh. Chika mendengus kesal dan
ingin mengutuk orang yang menabraknya ini. Ia menoleh ke arah orang yang
menabraknya. Ternyata, pria yang ditemuinya di Toko Buku kemarin. “Punya mata
nggak sih lo? Udah tahu ada orang keburu main tabrak aja!”. Ia benar-benar
kesal kali ini. “Maaf, bukannya lo yang salah? Lo yang nabrak gue. Gue kan
jalannya santai. Liat itu alkitab yang gue bawa jatuh semua kan”. Pria itu tak
mau disalahkan oleh Chika. Benar-benar memalukan, ini memang salah Chika, ia
baru menyadarinya. Segera Chika membereskan alkitab yang berserakan di lantai
tangga, kemudian memberikannya pada pria itu. “Lo kristian?”. Chika menatap
Jordan. “Iya, Lo juga?”. Jordan berbalik bertanya. Chika hanya menggeleng. “Oh
yaudah, kenalin nama gue Gabrielo Jordan. Panggil Jordan aja”. Pria itu
mengulurkan tangannya pada Chika tanda berkenalan. Oh, Jordan.. gumam Chika
dalam hati. “Gue Araya Chika. Dipanggil Chika, maaf ya”. “My pleasure, Oh ya kelas bisnis udah hampir habis jamnya. Mending
lo ikut gue ke kantin. Gue traktir, anggap permintaan maaf di Toko Buku
kemarin”. Jordan menuruni anak tangga. Benar kata jordan, Chika pun mengikuti
langkah Jordan dari belakang.
“Mau makan apa?”.
Jordan menduduki bangku kantin. “Mau mie kocok Bandung sama es teh”. Seru Chika
tanpa pikir panjang. Kantin terasa sepi, karena memang masih jam kuliah. Hanya
ada 3 orang mahasiswa yang sedang nongkrong sambil berbincang. Saat menunggu
makanan datang, mereka hanya diam satu sama lain, canggung. Sampai akhirnya
Jordan berkata, “Ini buat lo, ntaran aja bukanya di rumah biar kaget haha”.
Tawa renyahnya menggema kecil. “Lebay ah! Haha oke makasih ya”. Jordan hanya
mengangguk. Mereka lalu makan karena makanan yang dipesan sudah datang ke meja
mereka.
Malam harinya, Chika
merebahkan diri di kamarnya. Ia teringat kotak putih bercorak musik yang
diberikan Jordan tadi siang di Kampus. Ia segera membukanya, ternyata berisi
komik ‘Detective Conan’ edisi 99 yang di ngebetin Chika. Ia sudah menduga
sekali bahwa komik itu, komik yang menjadi rebutannya dengan Jordan di Toko
Buku waktu itu. Chika tertawa kecil. Perasaannya senang sekali, berbeda tak
seperti biasanya. Mungkinkah Chika jatuh cinta?. Chika menyimpan rapi pemberian
Jordan. Lalu ia mengambil air wudhu untuk shalat. Ya Tuhan... dosakah jika aku mencintai makhlukmu yang berbeda agama
denganku?. Chika bercakap dalam tengadah tangannya pada Tuhan. Ia
meneteskan airmata di akhir doanya.
Minggu pagi, Chika
dibangunkan lebih pagi oleh mamanya. “Chik, ayo bangun. Papa akan pulang malam
ini dari dinasnya. Kamu temenin mama belanja ya”. Chika mengucek matanya yang
masih berat untuk bangun sambil mengangguk lemah ke arah mamanya lalu ia
beranjak menuju kamar mandi.
Selesai berbenah, Chika menuruni tangga lalu mencari sosok mamanya. Tapi yang ia temui adalah sosok Jordan. Belum sempat Chika bertanya, mamanya sudah muncul. “Jordan temen deket Chika ya? Kok Chika nggak cerita? Tadi Jordan kesini mau nemuin kamu Chika”. “Oh ya, Jordan ikut kita belanja buat nyambut papanya Chika nanti malam, mau kan?”. Cerocos mama Chika panjang lebar. Jordan ingin menolak tapi tak enak dengan mamanya Chika. “Ok, tante dengan senang hati”. Jordan tersenyum. Ia menyetir di depan, Chika disampingnya dan mama Chika di jok tengah. Mobil melaju keluar rumah. Mereka berbelanja hingga sore. Kedekatan Chika dan Jordan pun semakin dekat. Hingga tanpa mereka berdua sadari, keduanya saling menaruh hati.
Selesai berbenah, Chika menuruni tangga lalu mencari sosok mamanya. Tapi yang ia temui adalah sosok Jordan. Belum sempat Chika bertanya, mamanya sudah muncul. “Jordan temen deket Chika ya? Kok Chika nggak cerita? Tadi Jordan kesini mau nemuin kamu Chika”. “Oh ya, Jordan ikut kita belanja buat nyambut papanya Chika nanti malam, mau kan?”. Cerocos mama Chika panjang lebar. Jordan ingin menolak tapi tak enak dengan mamanya Chika. “Ok, tante dengan senang hati”. Jordan tersenyum. Ia menyetir di depan, Chika disampingnya dan mama Chika di jok tengah. Mobil melaju keluar rumah. Mereka berbelanja hingga sore. Kedekatan Chika dan Jordan pun semakin dekat. Hingga tanpa mereka berdua sadari, keduanya saling menaruh hati.
Setelah selesai
berbelanja, Jordan dan Chika membawa barang belanjaan. Mama Chika cibuk membuat
makanan dibantu pembantu di rumah. Chika duduk di sofa, sambil menuangkan jus
untuk Jordan. “Tadi habis kemana? Kok bisa mampir kesini?”. “Habis dari Gereja.
Pengen aja ke rumah lo hehe”. Jordan meneguk jus-nya. “Jordan disini aja ikut
makan malam bareng ya. Tidak boleh ada penolakan!”. Seru mama Chika serius.
“Iya, tante. Nggak apa nih?”. “Iya, kalian bersiap-siapa saja dulu habis ini
papanya Chika pasti datang”. Mama Chika tersenyum lalu kembali berjalan ke
dapur. Dalam hati, Chika senang sekali ingin mengenalkan Jordan pada papanya
nanti.
Klakson berbunyi, suara
mobil jazz hitam memasuki halaman rumah. Pintu rumah dibuka. “Welcome to home, papa!”. Chika menyeru
kemudian memeluk papanya. Papanya hanya tersenyum, beliau memang sedikit dingin.
Papa, Mama, Chika dan Jordan lalu duduk bersama. “Kenalin om, saya Jordan”.
Jordan mengenalkan dirinya. “Pacar Chika? Namanya unsur kristian, Beda agama
ya?”. Chika tercekat dengan pertanyaan papanya. “Kalau bukan se-agama kenapa
pa? Perbedaan nggak harus menghalangi segalanya, termasuk cinta! Chika sayang
sama Jordan”. “Iya om, saya juga sayang dengan Chika. Apa semua ini salah? Kami
kan anak muda om, wajar. Toh kalo beneran, kita juga masih tahap pacaran om”.
Jordan ikut mempertahankan pendiriannya. Chika berderai airmata. Papanya memang
dingin, tapi tidak seperti ini juga. Chika benci. Ia tak mempedulikan perkataan
papanya lagi. ia berlari ke tangga dan menuju kamarnya, Chika mengunci diri di
kamar. Semua hanya diam mematung dengan makanan dihadapan masing-masing.
Paginya
mama mengetuk pintu kamar Chika. Dengan mata sembab dan langkah gontai Chika
menuju pintu kamar, membukakan pintu untuk mamanya. “Masih sedih sayang? Ayo
mandi setelah itu ke ruang tengah. Papa ingin bicara denganmu”. Tutur mama
dengan lembut dan halus. Chika hanya mengangguk lemah, ia merasa malas untuk bertemu papanya pagi
ini. iya tak ingin bercekcok untuk kedua kaliya dengan papanya masalah cinta
tapi bedanya dengan Jordan. Dengan pasrah Chika bergegas mandi.
Ketika sampai di ruang
tengah, ada mama dan papanya telah duduk menunggu Chika disana. Papanya mulai
angkat bicara. “Chika sayang, maafkan papa ya nak. Papa sadar kalian memang
masih tahap pacran. Entah mau besok atau seterusnya akan dipikirkan nanti juga.
Papa terlalu kejam dengan kamu, Chika. Maafkan papa. Papa mengizinkan kamu
berpacaran dengan Jordan walaupun kalian beda agama”. Papa berbicara dengan
bijaksana. “Papa serius?”. Chika terbelalak kaget. Papanya hanya tersenyum.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka, Jordan muncul dibaliknya. “ Saya nggak terlambat
kan om?”. Bicaranya dengan terburu-buru. “Haha nggak telat kok. Ayo sini
masuk”. Kekeh mama karena melihat wajah Jordan yang panik. Chika berdiri dan
langsung memeluk Jordan. “Biarkan aku memelukmu dan bercakap melipat tangan
dengan Tuhanku, dan kamu memelukku dan bercakap menengadah dan bersujud dengan
Tuhanmu. Bukan karena kita berbeda, akan menghancurkan segalanya. Tetapi,
perbedaan menangguhkan segalanya, termasuk cinta kita”. Jordan tersenyum
menatap Chika. Chika meneteskan airmata tanda bahagia, mama dan papa ikut
bahagia. Terima kasih Tuhan, izinkan aku
menjaga nya dalam cinta tapi beda yang kami jalani. Bisik Chika dalam hati
kecilnya.
Karya : Kartika P
Facebook : Kartika Putri P
Twitter : @Onyukyu
Aku,
Kamu dan Dia
Suasana ruang
kelas XII IPA 2 sangat ramai. Hiruk pikuk siswa yang sedang menikmati waktu
istirahatnya. Terlihat di pojok kelas ada sekelompok anak perempuan yang sedang
asyik mengobrol, dan di sekeliling ruang banyak anak lelaki yang berlarian
bercanda satu sama lain.
BRAAAAK!!
Seketika suasana ruang kelas menjadi
hening. Sebuah penghapus papan tulis melayang mengenai kepala seorang guru yang
hendak memasuki ruang kelas. “kalian semua lari keliling lapangan 5 kali
sekarang!” teriak guru. Satu persatu siswi mulai keluar dari ruang kelas dan
saling menyalahkan satu sama lain. mereka harus berlari keliling lapangan di
cuaca yang sangat terik.
TENG TENG TENG!!
Bel pulang sekolah berbunyi,
siswa-siswi langsung berlarian keluar sekolah. Raut wajah mereka nampak bahagia
seperti habis merasa melepas beban saat mendengar bel jam pelajaran berakhir.
Terlihat di dalam ruang kelas masih ada 4 siswa yang masih tersisa, yaitu
Melody, Stela, Sannia dan Rosi. Mereka masih merasa kelelahan setelah menjalani
hukuman tadi.
“cari minum yuk.” Cletuk Rosi
“boleh.”
Saut Melody
Lalu
mereka berempat beranjak dan pergi menuju tempat kendaraan mereka diparkir.
Suasana di Mall sangat ramai. Banyak
orang berhiruk pikuk sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri.
Sedangkan mereka berempat berjalan dari tempat perkir menuju kafe yang biasa
mereka datangi. Sebuah kafe di lantai 2 Mall yang cukup besar dan benuansa
klasik dengan di didominasi warna cokelat. Mereka duduk di tempat duduk
favorite mereka. Di ujung kafe dengan duduk berhadapan.
“pegel.” Keluh Stela
“gitu aja ngeluh.” Ejek Rosi
“huuuu.” Sahut melody sambil melempari Rosi
dengan buku
Beberapa menit kemudian minuman yang
mereka pesan datang dan mereka pun melanjutkan mengobrol, bercanda dan
menikmati minuman mereka. Mereka memang cukup dekat dan sering menghabiskan waktu bersama. Di sekolah, di
rumah dan di tempat lainnya mereka selalu pergi bersama.
Hari semakin larut. Langit siang telah
tergantikan dengan langit sore. Dan mereka pun
memutuskan untuk beranjak pulang.
“kamu setir yang bener ya Ros.” Cletuk Sania
“iya aku mau tidur.” Saut Melody
Rosi
pun hanya membalas candaan mereka dengan
senyum kecut. Dan lalu masuk ke dalam mobil. Di sepanjang perjalanan suasana
dalam mobil sangat sunyi. Stela dan Melody yang duduk di bangku belakang telah
terlelap. Sedangkan Sania yang duduk di samping Rosi hanya diam dan
memperhatikan jalan.
“kebo banget mereka.” Keluh Rosi
“iya tuh, tapi aku setia nemenin kamu
kok. Haha” Cletuk Sania
***
Hari ini di sekolah mereka ada
pertandingan basket pelajar antar sekolah. Tentu saja suasana di sekolah mereka
sangat ramai. Rosi yang merupakan pemain basket andalan sekolah mereka pun juga
sangat sibuk mempersiapkan diri. Melody, Stela dan Sania sibuk menyiapkan
properti untuk mendukung Rosi saat bermain nanti.
“acaranya mau mulai, ayo cepet.” Teriak Sania
dari luar kelas
Seluruh
siswa-siswi langsung berlarian menuju lapangan basket. Disana suasana sudah
ramai dengan teriak-teriakan supporter dari masing-masing sekolah.
Pertandingan berjalan cukup tegang
namun tetap seru dengan teriakan pendukung di bangku penonton. Dan tentunya di
ramaikan juga dengan penampilan Cheerleaders. Hingga pertandingan terakhir Tim
Rosi berhasil memenangkan pertandingan hari ini. Teriakan kegembiraan dan tepuk
tangan pendukung membuat keadaan yang tadinya mulai sepi menjadi ramai kembali.
“selamat ya Ros.” Ucap Stela
“iya, makasih udah dukung.” Jawab Rosi
“trattir makan aja cukup kok.” Cletuk melody
Sania
dan teman lainnya pun bergantian mengucapkan selamat dan bersalaman dengan
Rosi. Namun Rosi kali ini tidak bisa berkumpul dengan ketiga teman ceweknya
karena harus berkumpul dengan teman di Tim Basketnya dulu. Rosi sempat
melambaikan tangan dan tersenyum manis pada ketiga temannya lalu dia
menghilang.
***
Malam ini Rosi sedang berdiam diri di
kamarnya dengan bermain laptop. Entah kenapa ada yang mengganggu pikirannya.
Tiba-tiba dia teringat dengan Melody. Cewek itu sebenarnya adalah orang yang
membuat perasaannnya selalu bahagia dan tenang. Perasaan itu mulai dia rasakan
semenjak berada dalam satu lingkungan kelas dan berteman dengannya beberapa
bulan ini. Namun Rosi tidak pernah menampakkan perasaannya tersebut.
Hai mel. Maaf malam-malam ganggu kamu. Aku suka sama kamu.
Awalnya aku nganggep ini perasaan yang sama dengan perasaan yang aku rasain ke
Stela dan Sania. Tapi ternyata ini beda mel. Aku tahu aku salah dengan perasaan
ini. Maafin aku bicara seperti ini
Rosi
memang anak yang cuek dan selalu menganggap yang berlalu biarlah berlalu.
Setelah mengirim sms itu ke Melody dia langsung bergegas tidur dan tidak
menghiraukannya lagi.
***
TOK TOK TOK!!
Terdengar suara ketuka pintu dari luar
kamar Melody. Dia yang tadinya sedang sibuk dengan laptopnya langsung beranjak
dan membuka pintu.
“kamu
san.” Kata Melody
“iya
aku tidur rumah kamu ya. Aku lagi bosen di rumah.” Rayu Sania
Melodu
haya tersenyum dan mempersilahkan Sania masuk. Tiba-tiba Melody merasa perutnya
sakit, dan pergi ke kamar mandi meninggalkan Sania di kamar sendiri bermain
laptop. Saat Melody ke kamar mandi hapenya berbunyi, dan Sania yang iseng
langsung membuka dan membacanya. Namun dia malah terkejut dan langsung sedih.
Lalu dia langsung membereskan barangnya dan langsung pergi tanpa berpamitan
dengan Melody.
Melody yang kaget karena setelah
kembali ke kamar temannya sudah tidak ada lagi. Dia bingung berniat akan sms
Sania. Namun dia malah terkejut melihat hapenya. Ada sms dari Rosi yang telah
terbuka. Dia berfikir Sania yang telah membukanya dan marah setelah melihat
itu. Melody langsung merasa bersalah dan membalas sms Rosi tersebut.
Pagi harinya Rosi bangun lebih awal
dari biasanya dan mengecek hape sudah ada dua sms. Yang satu dari operator yang
selalu setia sms dan yang satu lagi dari Melody. Rosi langsung membacanya
Maaf. Tapi ini menyusahkan kita.
Lupakan saja.
Rosi
langsung terkejut dan sedikit kecewa. Dia tahu akan seperti ini, namun entah
kenapa dia merasa sangat kecewa. Tapi Rosi langsung melupakan dan kembali ke
kegiatan biasanya.
***
Tiga hari ini Stela tidak di pernah di
ajak ngobrol dengan ketiga temannya. Dia tidak pernah merasa membuat salah jadi
dia heran dengan semua ini.
“kamu kenapa?” cetus Stela pada Sania
“tanya aja ke Melody atau Rosi mereka kayaknya
lebih tahu dan lagi berbunga-bunga juga” Cetus
Sania
Stela
yang merasa kesal langsung beranjak dari kelas dan memutuskan untuk juga tidak
menghiraukan mereka.
Beberapa bulan telah berlalu. Mereka sudah tidakpernah
bersama lagi semenjak waktu itu. Dan kini mereka sudah resmi lulus dari sekolah
mereka. Tentunya mereka tidak mungkin kuliah di tempat yang sama. Stela
memutuskan kulliah di Universitas yang dekat saja, namun tidak tahu dengan
Melody, Sania dan Rosi. Stela yang merasa kesal tidak lagi ingin tahu dengan
kabar mereka.
Pagi ini Stela harus pergi ke kampus untuk
mengurusi admnistrasi yang belum selesai. Dia berangkat sendiri. Dan tiba-tiba
dia teringat saat berangkat sekolah bersama teman-temannya dulu. Namun
cepat-cepat Stela melupakannya. Setelah tiba di kampus dia langsung menuju ke
ruang administrasi. Lalu ada orang yang menepuk pundak Stela.
“lama gak ketemu.”
Stela
langsung menoleh dan terkejut. Ternyata orang tersebut adalah Rosi.
“ayo ke kantin. Aku mau ngomong.” Ajak Rosi
Mereka
pun langsung berjalan ke arah kantin yang ada di belakang kampus. Disana mereka
memilih duduk berhadapan. Hari itu kantin lumayan sepi.
“mau ngomong apa?” Cetus Stela
“kita salah faham.” Jawab Rosi
Akhirnya
Rosi menjelaskan kejadian waktu itu. Dia bilang tentang perasaannya ke Melody.
Dan tentang Sania yang diam-diam suka juga ke Rosi. Sania marah karena merasa
kecewa Rosi menyukai Melody. Sedangkan Rosi dan Melody menjauh karena merasa
bersalah dengan Sania.
“kenapa gak cerita ke aku?” protes Stela
“aku Cuma takut, maafin kita.” Jawab Rosi
“sudahlah, luapin aja.” Hibur Stela
Rosi dan Stela berbaikan sejak itu.
Dan mereka sempat mendapat kabar dari Melody. Sedangkan mereka benar-benar
kehilangan kabar tentang Sania. Meski begitu mereka tetap menganggap Sania
tetap teman mereka dan suatu saat pasti akan bertemu lagi.
***
Karya : Regina Ayu
Facebook : Reggina Ayyu Andini
Twitter : @Cacaregica
Sabtu, 01 Juni 2013
TAK KUSANGKA
Bisakah mengubah takdir? Yah takdir. Memang, tidak semua takdir bisa diubah, tapi masih ada takdir yang bisa diubah itupun jika kita menginginkan sebuah takdir berubah dan pastinya dengan kehendak sang kuasa. Ini semua adalah cerita tentang Rena dan Raka. Dua manusia yang mungkin dipertemukan hanya untuk sementara dan terpisahkan oleh takdir yang tak mungkin bisa dihindari.
“I'm at a payphone trying to call home all of my change I spent
on you ...” terdengar jelas bunyi nada dering dari atas lemari yang tak lain
adalah handphone Rena. Tak salah
lagi, bahwa itu adalah pesan singkat dari Raka. Mendengar suara itu, Rena pun
segera membuka dan membaca pesan yang berisi “Rena sorry, ntar gue ngga bisa jemput lo pake motor. Soalnya di daerah
rumah gue ujan uda mulai turun. Jadi gue bakalan jemput lo pake mobil. Wait me
!!” membaca pesan itu, rena pun segera bergegas mencari ibunya untuk berpamitan
pergi ke sekolah lebih awal sebelum Raka datang menjemputnya. Satu, dua, hingga
beberapa langkah kemudian tetesan air pun jatuh membasahi rambut indah milik
Rena. Rintik kecil itu pun tak berapa lama berkembang menjadi rintik yang lebih
besar. Rena pun segera berteduh di sebuah pos kamling yang masih berada di
lingkungan rumahnya. Ia melihat sebuah pesan masuk di handphone nya dan lagi
lagi pesan itu dari Raka. Rena pun hanya mengabaikan pesan itu tanpa membacanya
terlebih dahulu. Tak berapa lama, ada sebuah mobil berhenti tepat didepan pos
kamling tersebut. Rena sudah berani menebak dengan benar jika itu adalah Raka.
Turunlah seorang cowok berambut lurus dan berjalan tegap mendekati Rena dengan
menggunakan payungnya.
“Rena !! lu kenapa sih ninggalin gue. Gue kan uda sms lo tadi.
Kalo hari ini bawa mobil soalnya lagi ujaaaannn ...!!” kata Raka
“Lo kenapa juga? Uda tau ujan masih aja mau nyusulin gue. Gue kan
uda bilang, gue nggak mau kalo disusulin lo pake mobil” jawab Rena dengan nada
agak sedikit tinggi.
“Lo kenapa sih? Nggak suka banget kalo naik mobil bareng gue. Ayo
cepet. Kesekolah, keburu telat ntar.”
“Gue nggak suka!! Gue takut kalo naik mobil bareng lo!! Lo inget?
Gue hampir mati gara gara cara nyetir lo kayak setan. Gue nggak suka deh.”
“okedeh, kalo lo emang nggak suka. Jadiin ini naik mobil yang
terakhir bareng gue. Oke??? Ayo sekarang berangkat ikut gue!!” sahut Raka
dengan tegas sambil menarik tangan Rena untuk masuk kedalam mobilnya.
Rena,
hanyalah anak sekolah yang masih duduk dibangku kelas X menengah atas dan
mengenal Raka sebagai sahabat baiknya. Rena tak pernah menyangka seperti apa
lanjutan kisah persahabatannya dengan raka suatu saat nanti. Sesampai
disekolah, hujan masih menghiasi namun tak sederas sebelumnya. Raka bergegas
keluar dan membukakan pintu mobil untuk Rena. Hujan saat itu membuat kedua
sahabat itu sangat dekat dan jauh lebih dekat dari hari hari sebelumnya. Rena
dan Raka memang satu sekolah tapi tidak satu kelas. Mereka sudah bersahabat
sejak bertemu di bangku kelas VIII sekolah menengah pertama. Rena adalah
seorang gadis pendiam dan juga dikenal sebagai kutu buku yang selalu mendapat
kan rangking pertama pararel disekolahnya. Sedangkan, raka adalah seorang cowok
yang hanya aktif pada ekstrakulikulernya dan terkenal sebagai pemain basket
disekolahnya itu. hampir semua cewek disekolah tertarik pada penampilannya yang
selalu ‘sok keren’ tetapi tak tahu kalau Rena.
“Lo mau
kemana?”
“Ya
nganterin lo lah sampai depan kelas.” Jawab Raka
“nggak
usah! Gue bisa sendiri. Sana cepetan masuk kelas sendiri sana!” jawab Rena
dengan cuek.
“Iyadeh,
tapi lo nanti kalo pulang tungguin gue ya!!”
“Teng
Teng Teng” bel pulang sudah berbunyi dan Raka sudah menunggu rena keluar dari
kelasnya. Rena pun keluar dari kelasnya dan segera ingin meninggalkan Raka
sendiri. Raka memang sudah terbiasa menyikapi sikap Rena yang sangat cuek
kepadanya. Dia tidak pernah putus asa bersahabat dengan Rena, justru Raka malah
menaruh hati pada Rena. Pada hari itu, Raka memutuskan untuk mengajak jalan
jalan Rena sepulang sekolah.
“Rena?
Jalan jalan yuk!”
“kapan?”
“tahun depan,
sekaraaaang lah Rena ...”
“enggak
mau, nggak mau gue kalo jalan jalannya naik mobil.”
“please, sekali ini aja kok”
“okeh gue
turutin, tapi beliin gue es krim, balon, sama keripik kentang.”
“oke siap
my princes”
Setelah
membeli semua keinginan Rena, mereka berjalan ke arah tujuan akhir yaitu ‘cafe
parody’. Kafe itu adalah satu satunya kafe favorit Rena yang menjual macam
macam icecream. Suasana kafe disana bak seperti taman yang indah, yang dipenuhi
oleh kupu kupu dan bunga tulip. Seperti biasa, disana Rena hanya memesan satu
porsi ice cream untuk dirinya sendiri, karena Raka memang
tidak suka ice cream. Namun pada saat itu, Raka bersikap tak seperti biasanya.
“Rena? Kok
lo cuma pesen satu doang?” ujar Raka
“yakan
biasanya kita kalo kesini Cuma mesen satu buat gue doang.”
“yaaa gue
kan mau kali.” Jawab Raka
“lo
mauuuu? Kesambet apaan lo suka ice cream? Yadeh gue pesenin yaa.”
“eee
enggak usah deh, gue satu porsi sama lo aja. Boleh kagak?”
“eee boleh
deh, ntar gue mintain sendok lagi.” Sahut Rena.
Mereka pun
memakan ice cream bersama, bercanda bersama di kafe tersebut. Hingga tak terasa
waktu menunjukkan pukul 5 sore, mereka masih bercanda tawa. Disana, Rena tak
terlihat cuek sama sekali kepada Raka. Raka pun merasa bahagia dan Raka merasa
bahwa inilah saat yang pas untuk mengungkapkan perasaannya pada sahabatnya itu.
“Rena?”
“emmm iya?
Kenapa mau lagi ice cream nya? Enak kan? Hahaaa kasian deh loh baru nyoba ice
cream sekali ini doang.”
“bukan ice
cream!” jawab Raka dengan agak kesal.
“teruuuuusss???”
“Rena, ini
gue serius. Please ini gue serius. Gue saa ... saa ... sayang sama lo. Gue
sayang sama lo lebih dari hubungan persahabatan kita. Please would you be my
girl?” Kata Raka dengan sedikit gugup.
“oke,
kasih aku waktu buat ngejawab pertanyaan lo ini. please anter gue pulang
sekarang.” Jawab Rena.
“ta .. ta
.. tapi icecreamnya belum habis!!” sambil berlari menyusul Rena didepan.
Tak
seperti biasanya, canda tawa yang ada dimobil berubah seketika menjadi hening
seperti tidak ada kehidupan didalamnya. Sesampai dirumah Rena, Rena langsung
bergegas masuk kerumah tanpa harus berkata sesuatu pada Raka. Raka pun
memaklumi hal tersebut. Mungkin ini adalah salah satu resiko dari perkataannya
tadi. Belum berlalu meninggalkan rumah Rena, Raka pun segera mengambil handphonenya
dan menekan tombol tombol huruf sampai membentuk sebuah kalimat “Rena, maafin gue. Gue nggak punya maksud
apa apa. Gue cuma mau bilang kalo gue bener bener berniat jadi cowok lo. Cowok
yang bisa jagain lo setiap hari setiap saat. Kalo lo nggak kasih jawaban juga
nggak papa. Gue Cuma berharap persahabatan kita masih utuh udah gitu aja.” Dan
menekan tombol enter agar segera masuk pada daftar kotak masuk handphone Rena.
Dua hari
berlalu, Rena tak juga memberi jawaban pada Raka. Mereka masih sama seperti
biasanya. Berangkat bersama kesekolah, namun kali ini tanpa ada satu kalimat
muncul dari satu sama lain. Hening, jauh lebih hening dari hari hari sebelumnya
yang mereka lalui bersama. Rena masih bingung ingin menjawab bagaimana
pertanyaan Raka. Rena hanya bisa diam, dan diam.
Empat hari
kemudian, Rena memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari Raka seminggu yang
lalu. Rena meminta Raka menjemputnya untuk berangkat ke sekolah naik motor
bersama sama. Raka pun menuruti kemauan Rena. Entah mengapa, sepulang sekolah
Rena meminta Raka untuk mengantarkannya ke taman kota. Dengan senang hati, Raka
pun mengantarkan Rena. Disana Rena yang memulai untuk pertama kalinya pada
hidupnya.
“eee
... Raka? Lo sayang sama gue?” Tanya
Rena dengan nada rendah.
“gue sih
masih sayang banget ke lo. Tapiiii kalo lo eee .. lupain juga nggak papa deh.”
Ujar Raka.
“eee
enggak ... enggak gitu nya. Gue cuma mau bilang IYA GUE JUGA SAYANG BANGET SAMA
LO.”
“serius
loh Ren??? Gila gue nggak nyangka sama sekali. lo beneran sayang sama gue?
Serius?”
“serius
Raka, gue serius sayang sama lo nyaaaaa .. !!”
“jadi?
Kita?”
“ya
terserah lo nya aja. Udah, kita pulang yuk.”
“lo nggak
mau makan ice cream?”
“enggak,
gue nggak mau bikin alergi lo kumat.”
“oke kita
pulang.”
Setelah
Rena menjawab semua pertanyaan Raka, Raka pun melajukan mobilnya dengan
kecepatan tinggi. Mungkin itu adalah ungkapan kegembiraannya saat Rena telah
menjawab semua pertanyaan Raka dengan pasti. Tanpa disadari, Raka pun menerobos
lampu merah yang ada di perempatan dekat rumah Rena. Dan seketika itu, ada
sebuah truk yang melaju dengan kencang dari arah barat. Raka pun menabrak
bagian tengah Truk. Dan seketika itu juga mereka berada dirumah sakit.
“duh gue
dimana? Loh mana Raka?”
“maaf mbak, tadi anda dan teman anda mengalami
kecelakaan. Dan teman anda berada di ruang ICU.“
“gimana
keadaannya? Saya mau lihat, antar saya kesana sekarang!!”
Sesampainya
disana, Rena sudah mendapati bahwa Raka terbujur kaku dengan monitor detak
jantung telah menunjukkan garis lurus. Dokter disana sudah menyatakan bahwa
Raka meninggal dunia. Tak kuasa Rena pun menangisi semua peristiwa ini. Rena
tak bisa percaya bahwa Raka telah tiada meninggalkannya untuk selamanya. Tiba
tiba muncul sebuah pesan singkat di handphone Rena yang masih dipegangnya
sedari tadi. Sungguh tak percaya pesan itu adalah pesan dari Raka yang baru
masuk ke daftar kotak masuk nya. Rena pun segera membuka dan membaca pesan yang
berisi “Rena, maaf kalo selama ini gue
punya salah sama lo. Gue sayang banget lo. Gue uda ikhlasin kalo lo nggak
ngejawab pertanyaan gue seminggu yang lalu. Maafin gue ya Rena.”
“gue juga
sayang banget sama lo. Gue juga minta maaf udah ngegantungin lo.” Ucap Rena
dalam hati sambil mengusap air yang tak kunjung reda keluar dari matanya yang
indah.
Karya : Berliana Okta
Facebook : Berliana Okta
Twitter : @Oya_nha
Langganan:
Postingan (Atom)