“Memeluk Dalam Beda”
Desiran AC
menyejukkan suasana siang hari itu. Chika menggulung rambut panjang hitamnya,
ia masih merasa gerah. Perempuan berdarah Jawa itu mencari komik dengan teliti
di sheet ke-3. Sepasang mata bulatnya fokus dan... dapat! Ia menarik komik
‘Detective Conan’ edisi 99 dari sheet
buku tetapi sebuah tangan dengan kulit langsat memegang ujung komik itu. Mereka
saling bertatapan. “Eh maaf aku kira dari sheet
ke-3 tadi buku itu nggak ada yang ambil. Ternyata kita ambilnya barengan, gue
nggak lihat”. Kata pria itu mencairkan suasana. “Oh nggak apa, ambil aja. Gue
nggak jadi beli”. Chika tersenyum tipis lalu beranjak meninggalkan Toko Buku.
Pria itu hanya mematung sejenak lalu berjalan menuju kasir untuk membeli komik
yang menjadi rebutannya dengan Chika tadi.
Chika terburu buru
menuruni anak tangga menuju ke ruang tengah. ”Kamu terburu-buru gitu sih, nak?”.
Tanya mama Chika sambil menuangkan jus jeruk ke
dalam gelas pink Chika dengan terheran-heran. “Duh ma telat nih, Chika
lupa kalo hari ini ada kuliah pagi”. Chika mengerutkan dahinya sambil meneguk
cepat jus jeruk di gelas pinknya. “Pelan-pelan minumnya Chik...” belum sempat
mamanya melanjutkan perkataan, Chika meraih tangan dan mencium tangan mamanya,
berpamitan. Tak lupa ia mencium kedua pipi mama kesayangannya. Chika nyelonong
pergi. Mamanya hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah lucu dan aneh
anaknya.
Kelas bisnis ada
dilantai 3. Mahasiswa dilarang menggunakan lift
untuk sampai ke atas. Chika menghela nafas panjang. Lalu ia berlari menyusuri
anak tangga dengan berlari. BRUKKK!! Chika terjatuh. Chika mendengus kesal dan
ingin mengutuk orang yang menabraknya ini. Ia menoleh ke arah orang yang
menabraknya. Ternyata, pria yang ditemuinya di Toko Buku kemarin. “Punya mata
nggak sih lo? Udah tahu ada orang keburu main tabrak aja!”. Ia benar-benar
kesal kali ini. “Maaf, bukannya lo yang salah? Lo yang nabrak gue. Gue kan
jalannya santai. Liat itu alkitab yang gue bawa jatuh semua kan”. Pria itu tak
mau disalahkan oleh Chika. Benar-benar memalukan, ini memang salah Chika, ia
baru menyadarinya. Segera Chika membereskan alkitab yang berserakan di lantai
tangga, kemudian memberikannya pada pria itu. “Lo kristian?”. Chika menatap
Jordan. “Iya, Lo juga?”. Jordan berbalik bertanya. Chika hanya menggeleng. “Oh
yaudah, kenalin nama gue Gabrielo Jordan. Panggil Jordan aja”. Pria itu
mengulurkan tangannya pada Chika tanda berkenalan. Oh, Jordan.. gumam Chika
dalam hati. “Gue Araya Chika. Dipanggil Chika, maaf ya”. “My pleasure, Oh ya kelas bisnis udah hampir habis jamnya. Mending
lo ikut gue ke kantin. Gue traktir, anggap permintaan maaf di Toko Buku
kemarin”. Jordan menuruni anak tangga. Benar kata jordan, Chika pun mengikuti
langkah Jordan dari belakang.
“Mau makan apa?”.
Jordan menduduki bangku kantin. “Mau mie kocok Bandung sama es teh”. Seru Chika
tanpa pikir panjang. Kantin terasa sepi, karena memang masih jam kuliah. Hanya
ada 3 orang mahasiswa yang sedang nongkrong sambil berbincang. Saat menunggu
makanan datang, mereka hanya diam satu sama lain, canggung. Sampai akhirnya
Jordan berkata, “Ini buat lo, ntaran aja bukanya di rumah biar kaget haha”.
Tawa renyahnya menggema kecil. “Lebay ah! Haha oke makasih ya”. Jordan hanya
mengangguk. Mereka lalu makan karena makanan yang dipesan sudah datang ke meja
mereka.
Malam harinya, Chika
merebahkan diri di kamarnya. Ia teringat kotak putih bercorak musik yang
diberikan Jordan tadi siang di Kampus. Ia segera membukanya, ternyata berisi
komik ‘Detective Conan’ edisi 99 yang di ngebetin Chika. Ia sudah menduga
sekali bahwa komik itu, komik yang menjadi rebutannya dengan Jordan di Toko
Buku waktu itu. Chika tertawa kecil. Perasaannya senang sekali, berbeda tak
seperti biasanya. Mungkinkah Chika jatuh cinta?. Chika menyimpan rapi pemberian
Jordan. Lalu ia mengambil air wudhu untuk shalat. Ya Tuhan... dosakah jika aku mencintai makhlukmu yang berbeda agama
denganku?. Chika bercakap dalam tengadah tangannya pada Tuhan. Ia
meneteskan airmata di akhir doanya.
Minggu pagi, Chika
dibangunkan lebih pagi oleh mamanya. “Chik, ayo bangun. Papa akan pulang malam
ini dari dinasnya. Kamu temenin mama belanja ya”. Chika mengucek matanya yang
masih berat untuk bangun sambil mengangguk lemah ke arah mamanya lalu ia
beranjak menuju kamar mandi.
Selesai berbenah, Chika menuruni tangga lalu mencari sosok mamanya. Tapi yang ia temui adalah sosok Jordan. Belum sempat Chika bertanya, mamanya sudah muncul. “Jordan temen deket Chika ya? Kok Chika nggak cerita? Tadi Jordan kesini mau nemuin kamu Chika”. “Oh ya, Jordan ikut kita belanja buat nyambut papanya Chika nanti malam, mau kan?”. Cerocos mama Chika panjang lebar. Jordan ingin menolak tapi tak enak dengan mamanya Chika. “Ok, tante dengan senang hati”. Jordan tersenyum. Ia menyetir di depan, Chika disampingnya dan mama Chika di jok tengah. Mobil melaju keluar rumah. Mereka berbelanja hingga sore. Kedekatan Chika dan Jordan pun semakin dekat. Hingga tanpa mereka berdua sadari, keduanya saling menaruh hati.
Selesai berbenah, Chika menuruni tangga lalu mencari sosok mamanya. Tapi yang ia temui adalah sosok Jordan. Belum sempat Chika bertanya, mamanya sudah muncul. “Jordan temen deket Chika ya? Kok Chika nggak cerita? Tadi Jordan kesini mau nemuin kamu Chika”. “Oh ya, Jordan ikut kita belanja buat nyambut papanya Chika nanti malam, mau kan?”. Cerocos mama Chika panjang lebar. Jordan ingin menolak tapi tak enak dengan mamanya Chika. “Ok, tante dengan senang hati”. Jordan tersenyum. Ia menyetir di depan, Chika disampingnya dan mama Chika di jok tengah. Mobil melaju keluar rumah. Mereka berbelanja hingga sore. Kedekatan Chika dan Jordan pun semakin dekat. Hingga tanpa mereka berdua sadari, keduanya saling menaruh hati.
Setelah selesai
berbelanja, Jordan dan Chika membawa barang belanjaan. Mama Chika cibuk membuat
makanan dibantu pembantu di rumah. Chika duduk di sofa, sambil menuangkan jus
untuk Jordan. “Tadi habis kemana? Kok bisa mampir kesini?”. “Habis dari Gereja.
Pengen aja ke rumah lo hehe”. Jordan meneguk jus-nya. “Jordan disini aja ikut
makan malam bareng ya. Tidak boleh ada penolakan!”. Seru mama Chika serius.
“Iya, tante. Nggak apa nih?”. “Iya, kalian bersiap-siapa saja dulu habis ini
papanya Chika pasti datang”. Mama Chika tersenyum lalu kembali berjalan ke
dapur. Dalam hati, Chika senang sekali ingin mengenalkan Jordan pada papanya
nanti.
Klakson berbunyi, suara
mobil jazz hitam memasuki halaman rumah. Pintu rumah dibuka. “Welcome to home, papa!”. Chika menyeru
kemudian memeluk papanya. Papanya hanya tersenyum, beliau memang sedikit dingin.
Papa, Mama, Chika dan Jordan lalu duduk bersama. “Kenalin om, saya Jordan”.
Jordan mengenalkan dirinya. “Pacar Chika? Namanya unsur kristian, Beda agama
ya?”. Chika tercekat dengan pertanyaan papanya. “Kalau bukan se-agama kenapa
pa? Perbedaan nggak harus menghalangi segalanya, termasuk cinta! Chika sayang
sama Jordan”. “Iya om, saya juga sayang dengan Chika. Apa semua ini salah? Kami
kan anak muda om, wajar. Toh kalo beneran, kita juga masih tahap pacaran om”.
Jordan ikut mempertahankan pendiriannya. Chika berderai airmata. Papanya memang
dingin, tapi tidak seperti ini juga. Chika benci. Ia tak mempedulikan perkataan
papanya lagi. ia berlari ke tangga dan menuju kamarnya, Chika mengunci diri di
kamar. Semua hanya diam mematung dengan makanan dihadapan masing-masing.
Paginya
mama mengetuk pintu kamar Chika. Dengan mata sembab dan langkah gontai Chika
menuju pintu kamar, membukakan pintu untuk mamanya. “Masih sedih sayang? Ayo
mandi setelah itu ke ruang tengah. Papa ingin bicara denganmu”. Tutur mama
dengan lembut dan halus. Chika hanya mengangguk lemah, ia merasa malas untuk bertemu papanya pagi
ini. iya tak ingin bercekcok untuk kedua kaliya dengan papanya masalah cinta
tapi bedanya dengan Jordan. Dengan pasrah Chika bergegas mandi.
Ketika sampai di ruang
tengah, ada mama dan papanya telah duduk menunggu Chika disana. Papanya mulai
angkat bicara. “Chika sayang, maafkan papa ya nak. Papa sadar kalian memang
masih tahap pacran. Entah mau besok atau seterusnya akan dipikirkan nanti juga.
Papa terlalu kejam dengan kamu, Chika. Maafkan papa. Papa mengizinkan kamu
berpacaran dengan Jordan walaupun kalian beda agama”. Papa berbicara dengan
bijaksana. “Papa serius?”. Chika terbelalak kaget. Papanya hanya tersenyum.
Tiba-tiba pintu rumah terbuka, Jordan muncul dibaliknya. “ Saya nggak terlambat
kan om?”. Bicaranya dengan terburu-buru. “Haha nggak telat kok. Ayo sini
masuk”. Kekeh mama karena melihat wajah Jordan yang panik. Chika berdiri dan
langsung memeluk Jordan. “Biarkan aku memelukmu dan bercakap melipat tangan
dengan Tuhanku, dan kamu memelukku dan bercakap menengadah dan bersujud dengan
Tuhanmu. Bukan karena kita berbeda, akan menghancurkan segalanya. Tetapi,
perbedaan menangguhkan segalanya, termasuk cinta kita”. Jordan tersenyum
menatap Chika. Chika meneteskan airmata tanda bahagia, mama dan papa ikut
bahagia. Terima kasih Tuhan, izinkan aku
menjaga nya dalam cinta tapi beda yang kami jalani. Bisik Chika dalam hati
kecilnya.
Karya : Kartika P
Facebook : Kartika Putri P
Twitter : @Onyukyu