Kamis, 06 Juni 2013

“Memeluk Dalam Beda”

Desiran AC menyejukkan suasana siang hari itu. Chika menggulung rambut panjang hitamnya, ia masih merasa gerah. Perempuan berdarah Jawa itu mencari komik dengan teliti di sheet ke-3. Sepasang mata bulatnya fokus dan... dapat! Ia menarik komik ‘Detective Conan’ edisi 99 dari sheet buku tetapi sebuah tangan dengan kulit langsat memegang ujung komik itu. Mereka saling bertatapan. “Eh maaf aku kira dari sheet ke-3 tadi buku itu nggak ada yang ambil. Ternyata kita ambilnya barengan, gue nggak lihat”. Kata pria itu mencairkan suasana. “Oh nggak apa, ambil aja. Gue nggak jadi beli”. Chika tersenyum tipis lalu beranjak meninggalkan Toko Buku. Pria itu hanya mematung sejenak lalu berjalan menuju kasir untuk membeli komik yang  menjadi rebutannya dengan Chika tadi.
Chika terburu buru menuruni anak tangga menuju ke ruang tengah. ”Kamu terburu-buru gitu sih, nak?”. Tanya mama Chika sambil menuangkan jus jeruk ke  dalam gelas pink Chika dengan terheran-heran. “Duh ma telat nih, Chika lupa kalo hari ini ada kuliah pagi”. Chika mengerutkan dahinya sambil meneguk cepat jus jeruk di gelas pinknya. “Pelan-pelan minumnya Chik...” belum sempat mamanya melanjutkan perkataan, Chika meraih tangan dan mencium tangan mamanya, berpamitan. Tak lupa ia mencium kedua pipi mama kesayangannya. Chika nyelonong pergi. Mamanya hanya menggelengkan kepala, melihat tingkah lucu dan aneh anaknya.
Kelas bisnis ada dilantai 3. Mahasiswa dilarang menggunakan lift untuk sampai ke atas. Chika menghela nafas panjang. Lalu ia berlari menyusuri anak tangga dengan berlari. BRUKKK!! Chika terjatuh. Chika mendengus kesal dan ingin mengutuk orang yang menabraknya ini. Ia menoleh ke arah orang yang menabraknya. Ternyata, pria yang ditemuinya di Toko Buku kemarin. “Punya mata nggak sih lo? Udah tahu ada orang keburu main tabrak aja!”. Ia benar-benar kesal kali ini. “Maaf, bukannya lo yang salah? Lo yang nabrak gue. Gue kan jalannya santai. Liat itu alkitab yang gue bawa jatuh semua kan”. Pria itu tak mau disalahkan oleh Chika. Benar-benar memalukan, ini memang salah Chika, ia baru menyadarinya. Segera Chika membereskan alkitab yang berserakan di lantai tangga, kemudian memberikannya pada pria itu. “Lo kristian?”. Chika menatap Jordan. “Iya, Lo juga?”. Jordan berbalik bertanya. Chika hanya menggeleng. “Oh yaudah, kenalin nama gue Gabrielo Jordan. Panggil Jordan aja”. Pria itu mengulurkan tangannya pada Chika tanda berkenalan. Oh, Jordan.. gumam Chika dalam hati. “Gue Araya Chika. Dipanggil Chika, maaf ya”. “My pleasure, Oh ya kelas bisnis udah hampir habis jamnya. Mending lo ikut gue ke kantin. Gue traktir, anggap permintaan maaf di Toko Buku kemarin”. Jordan menuruni anak tangga. Benar kata jordan, Chika pun mengikuti langkah Jordan dari belakang.
“Mau makan apa?”. Jordan menduduki bangku kantin. “Mau mie kocok Bandung sama es teh”. Seru Chika tanpa pikir panjang. Kantin terasa sepi, karena memang masih jam kuliah. Hanya ada 3 orang mahasiswa yang sedang nongkrong sambil berbincang. Saat menunggu makanan datang, mereka hanya diam satu sama lain, canggung. Sampai akhirnya Jordan berkata, “Ini buat lo, ntaran aja bukanya di rumah biar kaget haha”. Tawa renyahnya menggema kecil. “Lebay ah! Haha oke makasih ya”. Jordan hanya mengangguk. Mereka lalu makan karena makanan yang dipesan sudah datang ke meja mereka.
Malam harinya, Chika merebahkan diri di kamarnya. Ia teringat kotak putih bercorak musik yang diberikan Jordan tadi siang di Kampus. Ia segera membukanya, ternyata berisi komik ‘Detective Conan’ edisi 99 yang di ngebetin Chika. Ia sudah menduga sekali bahwa komik itu, komik yang menjadi rebutannya dengan Jordan di Toko Buku waktu itu. Chika tertawa kecil. Perasaannya senang sekali, berbeda tak seperti biasanya. Mungkinkah Chika jatuh cinta?. Chika menyimpan rapi pemberian Jordan. Lalu ia mengambil air wudhu untuk shalat. Ya Tuhan... dosakah jika aku mencintai makhlukmu yang berbeda agama denganku?. Chika bercakap dalam tengadah tangannya pada Tuhan. Ia meneteskan airmata di akhir doanya.
Minggu pagi, Chika dibangunkan lebih pagi oleh mamanya. “Chik, ayo bangun. Papa akan pulang malam ini dari dinasnya. Kamu temenin mama belanja ya”. Chika mengucek matanya yang masih berat untuk bangun sambil mengangguk lemah ke arah mamanya lalu ia beranjak menuju kamar mandi.
Selesai berbenah, Chika menuruni tangga lalu mencari sosok mamanya. Tapi yang ia temui adalah sosok Jordan. Belum sempat Chika bertanya, mamanya sudah muncul. “Jordan temen deket Chika ya? Kok Chika nggak cerita? Tadi Jordan kesini mau nemuin kamu Chika”. “Oh ya, Jordan ikut kita belanja buat nyambut papanya Chika nanti malam, mau kan?”. Cerocos mama Chika panjang lebar. Jordan ingin menolak tapi tak enak dengan mamanya Chika. “Ok, tante dengan senang hati”. Jordan tersenyum. Ia menyetir di depan, Chika disampingnya dan mama Chika di jok tengah. Mobil melaju keluar rumah. Mereka berbelanja hingga sore. Kedekatan Chika dan Jordan pun semakin dekat. Hingga tanpa mereka berdua sadari, keduanya saling menaruh hati.
Setelah selesai berbelanja, Jordan dan Chika membawa barang belanjaan. Mama Chika cibuk membuat makanan dibantu pembantu di rumah. Chika duduk di sofa, sambil menuangkan jus untuk Jordan. “Tadi habis kemana? Kok bisa mampir kesini?”. “Habis dari Gereja. Pengen aja ke rumah lo hehe”. Jordan meneguk jus-nya. “Jordan disini aja ikut makan malam bareng ya. Tidak boleh ada penolakan!”. Seru mama Chika serius. “Iya, tante. Nggak apa nih?”. “Iya, kalian bersiap-siapa saja dulu habis ini papanya Chika pasti datang”. Mama Chika tersenyum lalu kembali berjalan ke dapur. Dalam hati, Chika senang sekali ingin mengenalkan Jordan pada papanya nanti.
Klakson berbunyi, suara mobil jazz hitam memasuki halaman rumah. Pintu rumah dibuka. “Welcome to home, papa!”. Chika menyeru kemudian memeluk papanya. Papanya hanya tersenyum, beliau memang sedikit dingin. Papa, Mama, Chika dan Jordan lalu duduk bersama. “Kenalin om, saya Jordan”. Jordan mengenalkan dirinya. “Pacar Chika? Namanya unsur kristian, Beda agama ya?”. Chika tercekat dengan pertanyaan papanya. “Kalau bukan se-agama kenapa pa? Perbedaan nggak harus menghalangi segalanya, termasuk cinta! Chika sayang sama Jordan”. “Iya om, saya juga sayang dengan Chika. Apa semua ini salah? Kami kan anak muda om, wajar. Toh kalo beneran, kita juga masih tahap pacaran om”. Jordan ikut mempertahankan pendiriannya. Chika berderai airmata. Papanya memang dingin, tapi tidak seperti ini juga. Chika benci. Ia tak mempedulikan perkataan papanya lagi. ia berlari ke tangga dan menuju kamarnya, Chika mengunci diri di kamar. Semua hanya diam mematung dengan makanan dihadapan masing-masing.
Paginya mama mengetuk pintu kamar Chika. Dengan mata sembab dan langkah gontai Chika menuju pintu kamar, membukakan pintu untuk mamanya. “Masih sedih sayang? Ayo mandi setelah itu ke ruang tengah. Papa ingin bicara denganmu”. Tutur mama dengan lembut dan halus. Chika hanya mengangguk lemah,  ia merasa malas untuk bertemu papanya pagi ini. iya tak ingin bercekcok untuk kedua kaliya dengan papanya masalah cinta tapi bedanya dengan Jordan. Dengan pasrah Chika bergegas mandi.
Ketika sampai di ruang tengah, ada mama dan papanya telah duduk menunggu Chika disana. Papanya mulai angkat bicara. “Chika sayang, maafkan papa ya nak. Papa sadar kalian memang masih tahap pacran. Entah mau besok atau seterusnya akan dipikirkan nanti juga. Papa terlalu kejam dengan kamu, Chika. Maafkan papa. Papa mengizinkan kamu berpacaran dengan Jordan walaupun kalian beda agama”. Papa berbicara dengan bijaksana. “Papa serius?”. Chika terbelalak kaget. Papanya hanya tersenyum. Tiba-tiba pintu rumah terbuka, Jordan muncul dibaliknya. “ Saya nggak terlambat kan om?”. Bicaranya dengan terburu-buru. “Haha nggak telat kok. Ayo sini masuk”. Kekeh mama karena melihat wajah Jordan yang panik. Chika berdiri dan langsung memeluk Jordan. “Biarkan aku memelukmu dan bercakap melipat tangan dengan Tuhanku, dan kamu memelukku dan bercakap menengadah dan bersujud dengan Tuhanmu. Bukan karena kita berbeda, akan menghancurkan segalanya. Tetapi, perbedaan menangguhkan segalanya, termasuk cinta kita”. Jordan tersenyum menatap Chika. Chika meneteskan airmata tanda bahagia, mama dan papa ikut bahagia. Terima kasih Tuhan, izinkan aku menjaga nya dalam cinta tapi beda yang kami jalani. Bisik Chika dalam hati kecilnya.


Karya : Kartika P
Facebook : Kartika Putri P
Twitter : @Onyukyu


Aku, Kamu dan Dia

          Suasana ruang kelas XII IPA 2 sangat ramai. Hiruk pikuk siswa yang sedang menikmati waktu istirahatnya. Terlihat di pojok kelas ada sekelompok anak perempuan yang sedang asyik mengobrol, dan di sekeliling ruang banyak anak lelaki yang berlarian bercanda satu sama lain.
          BRAAAAK!!
          Seketika suasana ruang kelas menjadi hening. Sebuah penghapus papan tulis melayang mengenai kepala seorang guru yang hendak memasuki ruang kelas. “kalian semua lari keliling lapangan 5 kali sekarang!” teriak guru. Satu persatu siswi mulai keluar dari ruang kelas dan saling menyalahkan satu sama lain. mereka harus berlari keliling lapangan di cuaca yang sangat terik.
          TENG TENG TENG!!
          Bel pulang sekolah berbunyi, siswa-siswi langsung berlarian keluar sekolah. Raut wajah mereka nampak bahagia seperti habis merasa melepas beban saat mendengar bel jam pelajaran berakhir. Terlihat di dalam ruang kelas masih ada 4 siswa yang masih tersisa, yaitu Melody, Stela, Sannia dan Rosi. Mereka masih merasa kelelahan setelah menjalani hukuman tadi.
“cari minum yuk.” Cletuk Rosi
          “boleh.” Saut Melody
Lalu mereka berempat beranjak dan pergi menuju tempat kendaraan mereka diparkir.
          Suasana di Mall sangat ramai. Banyak orang berhiruk pikuk sedang sibuk dengan urusan mereka sendiri-sendiri. Sedangkan mereka berempat berjalan dari tempat perkir menuju kafe yang biasa mereka datangi. Sebuah kafe di lantai 2 Mall yang cukup besar dan benuansa klasik dengan di didominasi warna cokelat. Mereka duduk di tempat duduk favorite mereka. Di ujung kafe dengan duduk berhadapan.
“pegel.” Keluh Stela
“gitu aja ngeluh.” Ejek Rosi
“huuuu.” Sahut melody sambil melempari Rosi dengan buku
          Beberapa menit kemudian minuman yang mereka pesan datang dan mereka pun melanjutkan mengobrol, bercanda dan menikmati minuman mereka. Mereka memang cukup dekat dan sering  menghabiskan waktu bersama. Di sekolah, di rumah dan di tempat lainnya mereka selalu pergi bersama.
          Hari semakin larut. Langit siang telah tergantikan dengan langit sore. Dan mereka pun  memutuskan untuk beranjak pulang.
“kamu setir yang  bener ya Ros.” Cletuk Sania
“iya aku mau tidur.” Saut Melody
Rosi pun  hanya membalas candaan mereka dengan senyum kecut. Dan lalu masuk ke dalam mobil. Di sepanjang perjalanan suasana dalam mobil sangat sunyi. Stela dan Melody yang duduk di bangku belakang telah terlelap. Sedangkan Sania yang duduk di samping Rosi hanya diam dan memperhatikan jalan.
          “kebo banget mereka.” Keluh Rosi
          “iya tuh, tapi aku setia nemenin kamu kok. Haha” Cletuk Sania

***
          Hari ini di sekolah mereka ada pertandingan basket pelajar antar sekolah. Tentu saja suasana di sekolah mereka sangat ramai. Rosi yang merupakan pemain basket andalan sekolah mereka pun juga sangat sibuk mempersiapkan diri. Melody, Stela dan Sania sibuk menyiapkan properti untuk mendukung Rosi saat bermain nanti.
“acaranya mau mulai, ayo cepet.” Teriak Sania dari luar kelas
Seluruh siswa-siswi langsung berlarian menuju lapangan basket. Disana suasana sudah ramai dengan teriak-teriakan supporter dari masing-masing sekolah.
          Pertandingan berjalan cukup tegang namun tetap seru dengan teriakan pendukung di bangku penonton. Dan tentunya di ramaikan juga dengan penampilan Cheerleaders. Hingga pertandingan terakhir Tim Rosi berhasil memenangkan pertandingan hari ini. Teriakan kegembiraan dan tepuk tangan pendukung membuat keadaan yang tadinya mulai sepi menjadi ramai kembali.
“selamat ya Ros.” Ucap Stela
“iya, makasih udah dukung.” Jawab Rosi
“trattir makan aja cukup kok.” Cletuk melody
Sania dan teman lainnya pun bergantian mengucapkan selamat dan bersalaman dengan Rosi. Namun Rosi kali ini tidak bisa berkumpul dengan ketiga teman ceweknya karena harus berkumpul dengan teman di Tim Basketnya dulu. Rosi sempat melambaikan tangan dan tersenyum manis pada ketiga temannya lalu dia menghilang.

***
          Malam ini Rosi sedang berdiam diri di kamarnya dengan bermain laptop. Entah kenapa ada yang mengganggu pikirannya. Tiba-tiba dia teringat dengan Melody. Cewek itu sebenarnya adalah orang yang membuat perasaannnya selalu bahagia dan tenang. Perasaan itu mulai dia rasakan semenjak berada dalam satu lingkungan kelas dan berteman dengannya beberapa bulan ini. Namun Rosi tidak pernah menampakkan perasaannya tersebut. 
         
Hai mel. Maaf malam-malam ganggu kamu. Aku suka sama kamu. Awalnya aku nganggep ini perasaan yang sama dengan perasaan yang aku rasain ke Stela dan Sania. Tapi ternyata ini beda mel. Aku tahu aku salah dengan perasaan ini. Maafin aku bicara seperti ini

Rosi memang anak yang cuek dan selalu menganggap yang berlalu biarlah berlalu. Setelah mengirim sms itu ke Melody dia langsung bergegas tidur dan tidak menghiraukannya lagi.
***
          TOK TOK TOK!!
          Terdengar suara ketuka pintu dari luar kamar Melody. Dia yang tadinya sedang sibuk dengan laptopnya langsung beranjak dan membuka pintu.
“kamu san.” Kata Melody
“iya aku tidur rumah kamu ya. Aku lagi bosen di rumah.” Rayu Sania
Melodu haya tersenyum dan mempersilahkan Sania masuk. Tiba-tiba Melody merasa perutnya sakit, dan pergi ke kamar mandi meninggalkan Sania di kamar sendiri bermain laptop. Saat Melody ke kamar mandi hapenya berbunyi, dan Sania yang iseng langsung membuka dan membacanya. Namun dia malah terkejut dan langsung sedih. Lalu dia langsung membereskan barangnya dan langsung pergi tanpa berpamitan dengan Melody.
          Melody yang kaget karena setelah kembali ke kamar temannya sudah tidak ada lagi. Dia bingung berniat akan sms Sania. Namun dia malah terkejut melihat hapenya. Ada sms dari Rosi yang telah terbuka. Dia berfikir Sania yang telah membukanya dan marah setelah melihat itu. Melody langsung merasa bersalah dan membalas sms Rosi tersebut.
          Pagi harinya Rosi bangun lebih awal dari biasanya dan mengecek hape sudah ada dua sms. Yang satu dari operator yang selalu setia sms dan yang satu lagi dari Melody. Rosi langsung membacanya

Maaf. Tapi ini menyusahkan kita. Lupakan saja.

Rosi langsung terkejut dan sedikit kecewa. Dia tahu akan seperti ini, namun entah kenapa dia merasa sangat kecewa. Tapi Rosi langsung melupakan dan kembali ke kegiatan biasanya.

***
          Tiga hari ini Stela tidak di pernah di ajak ngobrol dengan ketiga temannya. Dia tidak pernah merasa membuat salah jadi dia heran dengan semua ini.
“kamu kenapa?” cetus Stela pada Sania
“tanya aja ke Melody atau Rosi mereka kayaknya lebih tahu dan lagi berbunga-bunga juga” Cetus  Sania
Stela yang merasa kesal langsung beranjak dari kelas dan memutuskan untuk juga tidak menghiraukan mereka.
Beberapa bulan telah berlalu. Mereka sudah tidakpernah bersama lagi semenjak waktu itu. Dan kini mereka sudah resmi lulus dari sekolah mereka. Tentunya mereka tidak mungkin kuliah di tempat yang sama. Stela memutuskan kulliah di Universitas yang dekat saja, namun tidak tahu dengan Melody, Sania dan Rosi. Stela yang merasa kesal tidak lagi ingin tahu dengan kabar mereka.
Pagi ini Stela harus pergi ke kampus untuk mengurusi admnistrasi yang belum selesai. Dia berangkat sendiri. Dan tiba-tiba dia teringat saat berangkat sekolah bersama teman-temannya dulu. Namun cepat-cepat Stela melupakannya. Setelah tiba di kampus dia langsung menuju ke ruang administrasi. Lalu ada orang yang menepuk pundak Stela.
“lama gak ketemu.”
Stela langsung menoleh dan terkejut. Ternyata orang tersebut adalah Rosi.
“ayo ke kantin. Aku mau ngomong.” Ajak Rosi
Mereka pun langsung berjalan ke arah kantin yang ada di belakang kampus. Disana mereka memilih duduk berhadapan. Hari itu kantin lumayan sepi.
“mau ngomong apa?” Cetus Stela
“kita salah faham.” Jawab Rosi
Akhirnya Rosi menjelaskan kejadian waktu itu. Dia bilang tentang perasaannya ke Melody. Dan tentang Sania yang diam-diam suka juga ke Rosi. Sania marah karena merasa kecewa Rosi menyukai Melody. Sedangkan Rosi dan Melody menjauh karena merasa bersalah dengan Sania.
“kenapa gak cerita ke aku?” protes Stela
“aku Cuma takut, maafin kita.” Jawab Rosi
“sudahlah, luapin aja.” Hibur Stela
          Rosi dan Stela berbaikan sejak itu. Dan mereka sempat mendapat kabar dari Melody. Sedangkan mereka benar-benar kehilangan kabar tentang Sania. Meski begitu mereka tetap menganggap Sania tetap teman mereka dan suatu saat pasti akan bertemu lagi.
***


Karya : Regina Ayu
Facebook : Reggina Ayyu Andini
Twitter : @Cacaregica

Sabtu, 01 Juni 2013



TAK KUSANGKA

Bisakah mengubah  takdir? Yah takdir. Memang, tidak semua takdir bisa diubah, tapi masih ada takdir yang bisa diubah itupun jika kita menginginkan sebuah takdir berubah dan pastinya dengan kehendak sang kuasa. Ini semua adalah cerita tentang Rena dan Raka. Dua manusia yang mungkin dipertemukan hanya untuk sementara dan terpisahkan oleh takdir yang tak mungkin bisa dihindari.
             I'm at a payphone trying to call home all of my change I spent on you ...” terdengar jelas bunyi nada dering dari atas lemari yang tak lain adalah handphone Rena. Tak salah lagi, bahwa itu adalah pesan singkat dari Raka. Mendengar suara itu, Rena pun segera membuka dan membaca pesan yang berisi “Rena sorry, ntar gue ngga bisa jemput lo pake motor. Soalnya di daerah rumah gue ujan uda mulai turun. Jadi gue bakalan jemput lo pake mobil. Wait me !!” membaca pesan itu, rena pun segera bergegas mencari ibunya untuk berpamitan pergi ke sekolah lebih awal sebelum Raka datang menjemputnya. Satu, dua, hingga beberapa langkah kemudian tetesan air pun jatuh membasahi rambut indah milik Rena. Rintik kecil itu pun tak berapa lama berkembang menjadi rintik yang lebih besar. Rena pun segera berteduh di sebuah pos kamling yang masih berada di lingkungan rumahnya. Ia melihat sebuah pesan masuk di handphone nya dan lagi lagi pesan itu dari Raka. Rena pun hanya mengabaikan pesan itu tanpa membacanya terlebih dahulu. Tak berapa lama, ada sebuah mobil berhenti tepat didepan pos kamling tersebut. Rena sudah berani menebak dengan benar jika itu adalah Raka. Turunlah seorang cowok berambut lurus dan berjalan tegap mendekati Rena dengan menggunakan payungnya.
“Rena !! lu kenapa sih ninggalin gue. Gue kan uda sms lo tadi. Kalo hari ini bawa mobil soalnya lagi ujaaaannn ...!!” kata Raka
“Lo kenapa juga? Uda tau ujan masih aja mau nyusulin gue. Gue kan uda bilang, gue nggak mau kalo disusulin lo pake mobil” jawab Rena dengan nada agak sedikit tinggi.
“Lo kenapa sih? Nggak suka banget kalo naik mobil bareng gue. Ayo cepet. Kesekolah, keburu telat ntar.”
“Gue nggak suka!! Gue takut kalo naik mobil bareng lo!! Lo inget? Gue hampir mati gara gara cara nyetir lo kayak setan. Gue nggak suka deh.”
“okedeh, kalo lo emang nggak suka. Jadiin ini naik mobil yang terakhir bareng gue. Oke??? Ayo sekarang berangkat ikut gue!!” sahut Raka dengan tegas sambil menarik tangan Rena untuk masuk kedalam mobilnya.
             Rena, hanyalah anak sekolah yang masih duduk dibangku kelas X menengah atas dan mengenal Raka sebagai sahabat baiknya. Rena tak pernah menyangka seperti apa lanjutan kisah persahabatannya dengan raka suatu saat nanti. Sesampai disekolah, hujan masih menghiasi namun tak sederas sebelumnya. Raka bergegas keluar dan membukakan pintu mobil untuk Rena. Hujan saat itu membuat kedua sahabat itu sangat dekat dan jauh lebih dekat dari hari hari sebelumnya. Rena dan Raka memang satu sekolah tapi tidak satu kelas. Mereka sudah bersahabat sejak bertemu di bangku kelas VIII sekolah menengah pertama. Rena adalah seorang gadis pendiam dan juga dikenal sebagai kutu buku yang selalu mendapat kan rangking pertama pararel disekolahnya. Sedangkan, raka adalah seorang cowok yang hanya aktif pada ekstrakulikulernya dan terkenal sebagai pemain basket disekolahnya itu. hampir semua cewek disekolah tertarik pada penampilannya yang selalu ‘sok keren’ tetapi tak tahu kalau Rena.
“Lo mau kemana?”
“Ya nganterin lo lah sampai depan kelas.” Jawab Raka
“nggak usah! Gue bisa sendiri. Sana cepetan masuk kelas sendiri sana!” jawab Rena dengan cuek.
“Iyadeh, tapi lo nanti kalo pulang tungguin gue ya!!”
             “Teng Teng Teng” bel pulang sudah berbunyi dan Raka sudah menunggu rena keluar dari kelasnya. Rena pun keluar dari kelasnya dan segera ingin meninggalkan Raka sendiri. Raka memang sudah terbiasa menyikapi sikap Rena yang sangat cuek kepadanya. Dia tidak pernah putus asa bersahabat dengan Rena, justru Raka malah menaruh hati pada Rena. Pada hari itu, Raka memutuskan untuk mengajak jalan jalan Rena sepulang sekolah.
“Rena? Jalan jalan yuk!”
“kapan?”
“tahun depan, sekaraaaang lah Rena ...”
“enggak mau, nggak mau gue kalo jalan jalannya naik mobil.”
“please, sekali ini aja kok”
“okeh gue turutin, tapi beliin gue es krim, balon, sama keripik kentang.”
“oke siap my princes”
Setelah membeli semua keinginan Rena, mereka berjalan ke arah tujuan akhir yaitu ‘cafe parody’. Kafe itu adalah satu satunya kafe favorit Rena yang menjual macam macam icecream. Suasana kafe disana bak seperti taman yang indah, yang dipenuhi oleh kupu kupu dan bunga tulip. Seperti biasa, disana Rena hanya memesan satu porsi ice cream untuk dirinya sendiri, karena Raka   memang tidak suka ice cream. Namun pada saat itu, Raka bersikap tak seperti biasanya.
“Rena? Kok lo cuma pesen satu doang?” ujar Raka
“yakan biasanya kita kalo kesini Cuma mesen satu buat gue doang.”
“yaaa gue kan mau kali.” Jawab Raka
“lo mauuuu? Kesambet apaan lo suka ice cream? Yadeh gue pesenin yaa.”
“eee enggak usah deh, gue satu porsi sama lo aja. Boleh kagak?”
“eee boleh deh, ntar gue mintain sendok lagi.” Sahut Rena.
Mereka pun memakan ice cream bersama, bercanda bersama di kafe tersebut. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 5 sore, mereka masih bercanda tawa. Disana, Rena tak terlihat cuek sama sekali kepada Raka. Raka pun merasa bahagia dan Raka merasa bahwa inilah saat yang pas untuk mengungkapkan perasaannya pada sahabatnya itu.
“Rena?”
“emmm iya? Kenapa mau lagi ice cream nya? Enak kan? Hahaaa kasian deh loh baru nyoba ice cream sekali ini doang.”
“bukan ice cream!” jawab Raka dengan agak kesal.
“teruuuuusss???”
“Rena, ini gue serius. Please ini gue serius. Gue saa ... saa ... sayang sama lo. Gue sayang sama lo lebih dari hubungan persahabatan kita. Please would you be my girl?” Kata Raka dengan sedikit gugup.
“oke, kasih aku waktu buat ngejawab pertanyaan lo ini. please anter gue pulang sekarang.” Jawab Rena.
“ta .. ta .. tapi icecreamnya belum habis!!” sambil berlari menyusul Rena didepan.
Tak seperti biasanya, canda tawa yang ada dimobil berubah seketika menjadi hening seperti tidak ada kehidupan didalamnya. Sesampai dirumah Rena, Rena langsung bergegas masuk kerumah tanpa harus berkata sesuatu pada Raka. Raka pun memaklumi hal tersebut. Mungkin ini adalah salah satu resiko dari perkataannya tadi. Belum berlalu meninggalkan rumah Rena, Raka pun segera mengambil handphonenya dan menekan tombol tombol huruf sampai membentuk sebuah kalimat “Rena, maafin gue. Gue nggak punya maksud apa apa. Gue cuma mau bilang kalo gue bener bener berniat jadi cowok lo. Cowok yang bisa jagain lo setiap hari setiap saat. Kalo lo nggak kasih jawaban juga nggak papa. Gue Cuma berharap persahabatan kita masih utuh udah gitu aja.” Dan menekan tombol enter agar segera masuk pada daftar kotak masuk handphone Rena.
Dua hari berlalu, Rena tak juga memberi jawaban pada Raka. Mereka masih sama seperti biasanya. Berangkat bersama kesekolah, namun kali ini tanpa ada satu kalimat muncul dari satu sama lain. Hening, jauh lebih hening dari hari hari sebelumnya yang mereka lalui bersama. Rena masih bingung ingin menjawab bagaimana pertanyaan Raka. Rena hanya bisa diam, dan diam.
Empat hari kemudian, Rena memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari Raka seminggu yang lalu. Rena meminta Raka menjemputnya untuk berangkat ke sekolah naik motor bersama sama. Raka pun menuruti kemauan Rena. Entah mengapa, sepulang sekolah Rena meminta Raka untuk mengantarkannya ke taman kota. Dengan senang hati, Raka pun mengantarkan Rena. Disana Rena yang memulai untuk pertama kalinya pada hidupnya.
“eee ...  Raka? Lo sayang sama gue?” Tanya Rena dengan nada rendah.
“gue sih masih sayang banget ke lo. Tapiiii kalo lo eee .. lupain juga nggak papa deh.” Ujar Raka.
“eee enggak ... enggak gitu nya. Gue cuma mau bilang IYA GUE JUGA SAYANG BANGET SAMA LO.”
“serius loh Ren??? Gila gue nggak nyangka sama sekali. lo beneran sayang sama gue? Serius?”
“serius Raka, gue serius sayang sama lo nyaaaaa .. !!”
“jadi? Kita?”
“ya terserah lo nya aja. Udah, kita pulang yuk.”
“lo nggak mau makan ice cream?”
“enggak, gue nggak mau bikin alergi lo kumat.”
“oke kita pulang.”
Setelah Rena menjawab semua pertanyaan Raka, Raka pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mungkin itu adalah ungkapan kegembiraannya saat Rena telah menjawab semua pertanyaan Raka dengan pasti. Tanpa disadari, Raka pun menerobos lampu merah yang ada di perempatan dekat rumah Rena. Dan seketika itu, ada sebuah truk yang melaju dengan kencang dari arah barat. Raka pun menabrak bagian tengah Truk. Dan seketika itu juga mereka berada dirumah sakit.
“duh gue dimana? Loh mana Raka?”
 “maaf mbak, tadi anda dan teman anda mengalami kecelakaan. Dan teman anda berada di ruang ICU.“
“gimana keadaannya? Saya mau lihat, antar saya kesana sekarang!!”
Sesampainya disana, Rena sudah mendapati bahwa Raka terbujur kaku dengan monitor detak jantung telah menunjukkan garis lurus. Dokter disana sudah menyatakan bahwa Raka meninggal dunia. Tak kuasa Rena pun menangisi semua peristiwa ini. Rena tak bisa percaya bahwa Raka telah tiada meninggalkannya untuk selamanya. Tiba tiba muncul sebuah pesan singkat di handphone Rena yang masih dipegangnya sedari tadi. Sungguh tak percaya pesan itu adalah pesan dari Raka yang baru masuk ke daftar kotak masuk nya. Rena pun segera membuka dan membaca pesan yang berisi “Rena, maaf kalo selama ini gue punya salah sama lo. Gue sayang banget lo. Gue uda ikhlasin kalo lo nggak ngejawab pertanyaan gue seminggu yang lalu. Maafin gue ya Rena.”  
“gue juga sayang banget sama lo. Gue juga minta maaf udah ngegantungin lo.” Ucap Rena dalam hati sambil mengusap air yang tak kunjung reda keluar dari matanya yang indah.


Karya : Berliana Okta
Facebook : Berliana Okta
Twitter : @Oya_nha