TAK KUSANGKA
Bisakah mengubah takdir? Yah takdir. Memang, tidak semua takdir bisa diubah, tapi masih ada takdir yang bisa diubah itupun jika kita menginginkan sebuah takdir berubah dan pastinya dengan kehendak sang kuasa. Ini semua adalah cerita tentang Rena dan Raka. Dua manusia yang mungkin dipertemukan hanya untuk sementara dan terpisahkan oleh takdir yang tak mungkin bisa dihindari.
“I'm at a payphone trying to call home all of my change I spent
on you ...” terdengar jelas bunyi nada dering dari atas lemari yang tak lain
adalah handphone Rena. Tak salah
lagi, bahwa itu adalah pesan singkat dari Raka. Mendengar suara itu, Rena pun
segera membuka dan membaca pesan yang berisi “Rena sorry, ntar gue ngga bisa jemput lo pake motor. Soalnya di daerah
rumah gue ujan uda mulai turun. Jadi gue bakalan jemput lo pake mobil. Wait me
!!” membaca pesan itu, rena pun segera bergegas mencari ibunya untuk berpamitan
pergi ke sekolah lebih awal sebelum Raka datang menjemputnya. Satu, dua, hingga
beberapa langkah kemudian tetesan air pun jatuh membasahi rambut indah milik
Rena. Rintik kecil itu pun tak berapa lama berkembang menjadi rintik yang lebih
besar. Rena pun segera berteduh di sebuah pos kamling yang masih berada di
lingkungan rumahnya. Ia melihat sebuah pesan masuk di handphone nya dan lagi
lagi pesan itu dari Raka. Rena pun hanya mengabaikan pesan itu tanpa membacanya
terlebih dahulu. Tak berapa lama, ada sebuah mobil berhenti tepat didepan pos
kamling tersebut. Rena sudah berani menebak dengan benar jika itu adalah Raka.
Turunlah seorang cowok berambut lurus dan berjalan tegap mendekati Rena dengan
menggunakan payungnya.
“Rena !! lu kenapa sih ninggalin gue. Gue kan uda sms lo tadi.
Kalo hari ini bawa mobil soalnya lagi ujaaaannn ...!!” kata Raka
“Lo kenapa juga? Uda tau ujan masih aja mau nyusulin gue. Gue kan
uda bilang, gue nggak mau kalo disusulin lo pake mobil” jawab Rena dengan nada
agak sedikit tinggi.
“Lo kenapa sih? Nggak suka banget kalo naik mobil bareng gue. Ayo
cepet. Kesekolah, keburu telat ntar.”
“Gue nggak suka!! Gue takut kalo naik mobil bareng lo!! Lo inget?
Gue hampir mati gara gara cara nyetir lo kayak setan. Gue nggak suka deh.”
“okedeh, kalo lo emang nggak suka. Jadiin ini naik mobil yang
terakhir bareng gue. Oke??? Ayo sekarang berangkat ikut gue!!” sahut Raka
dengan tegas sambil menarik tangan Rena untuk masuk kedalam mobilnya.
Rena,
hanyalah anak sekolah yang masih duduk dibangku kelas X menengah atas dan
mengenal Raka sebagai sahabat baiknya. Rena tak pernah menyangka seperti apa
lanjutan kisah persahabatannya dengan raka suatu saat nanti. Sesampai
disekolah, hujan masih menghiasi namun tak sederas sebelumnya. Raka bergegas
keluar dan membukakan pintu mobil untuk Rena. Hujan saat itu membuat kedua
sahabat itu sangat dekat dan jauh lebih dekat dari hari hari sebelumnya. Rena
dan Raka memang satu sekolah tapi tidak satu kelas. Mereka sudah bersahabat
sejak bertemu di bangku kelas VIII sekolah menengah pertama. Rena adalah
seorang gadis pendiam dan juga dikenal sebagai kutu buku yang selalu mendapat
kan rangking pertama pararel disekolahnya. Sedangkan, raka adalah seorang cowok
yang hanya aktif pada ekstrakulikulernya dan terkenal sebagai pemain basket
disekolahnya itu. hampir semua cewek disekolah tertarik pada penampilannya yang
selalu ‘sok keren’ tetapi tak tahu kalau Rena.
“Lo mau
kemana?”
“Ya
nganterin lo lah sampai depan kelas.” Jawab Raka
“nggak
usah! Gue bisa sendiri. Sana cepetan masuk kelas sendiri sana!” jawab Rena
dengan cuek.
“Iyadeh,
tapi lo nanti kalo pulang tungguin gue ya!!”
“Teng
Teng Teng” bel pulang sudah berbunyi dan Raka sudah menunggu rena keluar dari
kelasnya. Rena pun keluar dari kelasnya dan segera ingin meninggalkan Raka
sendiri. Raka memang sudah terbiasa menyikapi sikap Rena yang sangat cuek
kepadanya. Dia tidak pernah putus asa bersahabat dengan Rena, justru Raka malah
menaruh hati pada Rena. Pada hari itu, Raka memutuskan untuk mengajak jalan
jalan Rena sepulang sekolah.
“Rena?
Jalan jalan yuk!”
“kapan?”
“tahun depan,
sekaraaaang lah Rena ...”
“enggak
mau, nggak mau gue kalo jalan jalannya naik mobil.”
“please, sekali ini aja kok”
“okeh gue
turutin, tapi beliin gue es krim, balon, sama keripik kentang.”
“oke siap
my princes”
Setelah
membeli semua keinginan Rena, mereka berjalan ke arah tujuan akhir yaitu ‘cafe
parody’. Kafe itu adalah satu satunya kafe favorit Rena yang menjual macam
macam icecream. Suasana kafe disana bak seperti taman yang indah, yang dipenuhi
oleh kupu kupu dan bunga tulip. Seperti biasa, disana Rena hanya memesan satu
porsi ice cream untuk dirinya sendiri, karena Raka memang
tidak suka ice cream. Namun pada saat itu, Raka bersikap tak seperti biasanya.
“Rena? Kok
lo cuma pesen satu doang?” ujar Raka
“yakan
biasanya kita kalo kesini Cuma mesen satu buat gue doang.”
“yaaa gue
kan mau kali.” Jawab Raka
“lo
mauuuu? Kesambet apaan lo suka ice cream? Yadeh gue pesenin yaa.”
“eee
enggak usah deh, gue satu porsi sama lo aja. Boleh kagak?”
“eee boleh
deh, ntar gue mintain sendok lagi.” Sahut Rena.
Mereka pun
memakan ice cream bersama, bercanda bersama di kafe tersebut. Hingga tak terasa
waktu menunjukkan pukul 5 sore, mereka masih bercanda tawa. Disana, Rena tak
terlihat cuek sama sekali kepada Raka. Raka pun merasa bahagia dan Raka merasa
bahwa inilah saat yang pas untuk mengungkapkan perasaannya pada sahabatnya itu.
“Rena?”
“emmm iya?
Kenapa mau lagi ice cream nya? Enak kan? Hahaaa kasian deh loh baru nyoba ice
cream sekali ini doang.”
“bukan ice
cream!” jawab Raka dengan agak kesal.
“teruuuuusss???”
“Rena, ini
gue serius. Please ini gue serius. Gue saa ... saa ... sayang sama lo. Gue
sayang sama lo lebih dari hubungan persahabatan kita. Please would you be my
girl?” Kata Raka dengan sedikit gugup.
“oke,
kasih aku waktu buat ngejawab pertanyaan lo ini. please anter gue pulang
sekarang.” Jawab Rena.
“ta .. ta
.. tapi icecreamnya belum habis!!” sambil berlari menyusul Rena didepan.
Tak
seperti biasanya, canda tawa yang ada dimobil berubah seketika menjadi hening
seperti tidak ada kehidupan didalamnya. Sesampai dirumah Rena, Rena langsung
bergegas masuk kerumah tanpa harus berkata sesuatu pada Raka. Raka pun
memaklumi hal tersebut. Mungkin ini adalah salah satu resiko dari perkataannya
tadi. Belum berlalu meninggalkan rumah Rena, Raka pun segera mengambil handphonenya
dan menekan tombol tombol huruf sampai membentuk sebuah kalimat “Rena, maafin gue. Gue nggak punya maksud
apa apa. Gue cuma mau bilang kalo gue bener bener berniat jadi cowok lo. Cowok
yang bisa jagain lo setiap hari setiap saat. Kalo lo nggak kasih jawaban juga
nggak papa. Gue Cuma berharap persahabatan kita masih utuh udah gitu aja.” Dan
menekan tombol enter agar segera masuk pada daftar kotak masuk handphone Rena.
Dua hari
berlalu, Rena tak juga memberi jawaban pada Raka. Mereka masih sama seperti
biasanya. Berangkat bersama kesekolah, namun kali ini tanpa ada satu kalimat
muncul dari satu sama lain. Hening, jauh lebih hening dari hari hari sebelumnya
yang mereka lalui bersama. Rena masih bingung ingin menjawab bagaimana
pertanyaan Raka. Rena hanya bisa diam, dan diam.
Empat hari
kemudian, Rena memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari Raka seminggu yang
lalu. Rena meminta Raka menjemputnya untuk berangkat ke sekolah naik motor
bersama sama. Raka pun menuruti kemauan Rena. Entah mengapa, sepulang sekolah
Rena meminta Raka untuk mengantarkannya ke taman kota. Dengan senang hati, Raka
pun mengantarkan Rena. Disana Rena yang memulai untuk pertama kalinya pada
hidupnya.
“eee
... Raka? Lo sayang sama gue?” Tanya
Rena dengan nada rendah.
“gue sih
masih sayang banget ke lo. Tapiiii kalo lo eee .. lupain juga nggak papa deh.”
Ujar Raka.
“eee
enggak ... enggak gitu nya. Gue cuma mau bilang IYA GUE JUGA SAYANG BANGET SAMA
LO.”
“serius
loh Ren??? Gila gue nggak nyangka sama sekali. lo beneran sayang sama gue?
Serius?”
“serius
Raka, gue serius sayang sama lo nyaaaaa .. !!”
“jadi?
Kita?”
“ya
terserah lo nya aja. Udah, kita pulang yuk.”
“lo nggak
mau makan ice cream?”
“enggak,
gue nggak mau bikin alergi lo kumat.”
“oke kita
pulang.”
Setelah
Rena menjawab semua pertanyaan Raka, Raka pun melajukan mobilnya dengan
kecepatan tinggi. Mungkin itu adalah ungkapan kegembiraannya saat Rena telah
menjawab semua pertanyaan Raka dengan pasti. Tanpa disadari, Raka pun menerobos
lampu merah yang ada di perempatan dekat rumah Rena. Dan seketika itu, ada
sebuah truk yang melaju dengan kencang dari arah barat. Raka pun menabrak
bagian tengah Truk. Dan seketika itu juga mereka berada dirumah sakit.
“duh gue
dimana? Loh mana Raka?”
“maaf mbak, tadi anda dan teman anda mengalami
kecelakaan. Dan teman anda berada di ruang ICU.“
“gimana
keadaannya? Saya mau lihat, antar saya kesana sekarang!!”
Sesampainya
disana, Rena sudah mendapati bahwa Raka terbujur kaku dengan monitor detak
jantung telah menunjukkan garis lurus. Dokter disana sudah menyatakan bahwa
Raka meninggal dunia. Tak kuasa Rena pun menangisi semua peristiwa ini. Rena
tak bisa percaya bahwa Raka telah tiada meninggalkannya untuk selamanya. Tiba
tiba muncul sebuah pesan singkat di handphone Rena yang masih dipegangnya
sedari tadi. Sungguh tak percaya pesan itu adalah pesan dari Raka yang baru
masuk ke daftar kotak masuk nya. Rena pun segera membuka dan membaca pesan yang
berisi “Rena, maaf kalo selama ini gue
punya salah sama lo. Gue sayang banget lo. Gue uda ikhlasin kalo lo nggak
ngejawab pertanyaan gue seminggu yang lalu. Maafin gue ya Rena.”
“gue juga
sayang banget sama lo. Gue juga minta maaf udah ngegantungin lo.” Ucap Rena
dalam hati sambil mengusap air yang tak kunjung reda keluar dari matanya yang
indah.
Karya : Berliana Okta
Facebook : Berliana Okta
Twitter : @Oya_nha
Tidak ada komentar:
Posting Komentar