Sabtu, 01 Juni 2013



TAK KUSANGKA

Bisakah mengubah  takdir? Yah takdir. Memang, tidak semua takdir bisa diubah, tapi masih ada takdir yang bisa diubah itupun jika kita menginginkan sebuah takdir berubah dan pastinya dengan kehendak sang kuasa. Ini semua adalah cerita tentang Rena dan Raka. Dua manusia yang mungkin dipertemukan hanya untuk sementara dan terpisahkan oleh takdir yang tak mungkin bisa dihindari.
             I'm at a payphone trying to call home all of my change I spent on you ...” terdengar jelas bunyi nada dering dari atas lemari yang tak lain adalah handphone Rena. Tak salah lagi, bahwa itu adalah pesan singkat dari Raka. Mendengar suara itu, Rena pun segera membuka dan membaca pesan yang berisi “Rena sorry, ntar gue ngga bisa jemput lo pake motor. Soalnya di daerah rumah gue ujan uda mulai turun. Jadi gue bakalan jemput lo pake mobil. Wait me !!” membaca pesan itu, rena pun segera bergegas mencari ibunya untuk berpamitan pergi ke sekolah lebih awal sebelum Raka datang menjemputnya. Satu, dua, hingga beberapa langkah kemudian tetesan air pun jatuh membasahi rambut indah milik Rena. Rintik kecil itu pun tak berapa lama berkembang menjadi rintik yang lebih besar. Rena pun segera berteduh di sebuah pos kamling yang masih berada di lingkungan rumahnya. Ia melihat sebuah pesan masuk di handphone nya dan lagi lagi pesan itu dari Raka. Rena pun hanya mengabaikan pesan itu tanpa membacanya terlebih dahulu. Tak berapa lama, ada sebuah mobil berhenti tepat didepan pos kamling tersebut. Rena sudah berani menebak dengan benar jika itu adalah Raka. Turunlah seorang cowok berambut lurus dan berjalan tegap mendekati Rena dengan menggunakan payungnya.
“Rena !! lu kenapa sih ninggalin gue. Gue kan uda sms lo tadi. Kalo hari ini bawa mobil soalnya lagi ujaaaannn ...!!” kata Raka
“Lo kenapa juga? Uda tau ujan masih aja mau nyusulin gue. Gue kan uda bilang, gue nggak mau kalo disusulin lo pake mobil” jawab Rena dengan nada agak sedikit tinggi.
“Lo kenapa sih? Nggak suka banget kalo naik mobil bareng gue. Ayo cepet. Kesekolah, keburu telat ntar.”
“Gue nggak suka!! Gue takut kalo naik mobil bareng lo!! Lo inget? Gue hampir mati gara gara cara nyetir lo kayak setan. Gue nggak suka deh.”
“okedeh, kalo lo emang nggak suka. Jadiin ini naik mobil yang terakhir bareng gue. Oke??? Ayo sekarang berangkat ikut gue!!” sahut Raka dengan tegas sambil menarik tangan Rena untuk masuk kedalam mobilnya.
             Rena, hanyalah anak sekolah yang masih duduk dibangku kelas X menengah atas dan mengenal Raka sebagai sahabat baiknya. Rena tak pernah menyangka seperti apa lanjutan kisah persahabatannya dengan raka suatu saat nanti. Sesampai disekolah, hujan masih menghiasi namun tak sederas sebelumnya. Raka bergegas keluar dan membukakan pintu mobil untuk Rena. Hujan saat itu membuat kedua sahabat itu sangat dekat dan jauh lebih dekat dari hari hari sebelumnya. Rena dan Raka memang satu sekolah tapi tidak satu kelas. Mereka sudah bersahabat sejak bertemu di bangku kelas VIII sekolah menengah pertama. Rena adalah seorang gadis pendiam dan juga dikenal sebagai kutu buku yang selalu mendapat kan rangking pertama pararel disekolahnya. Sedangkan, raka adalah seorang cowok yang hanya aktif pada ekstrakulikulernya dan terkenal sebagai pemain basket disekolahnya itu. hampir semua cewek disekolah tertarik pada penampilannya yang selalu ‘sok keren’ tetapi tak tahu kalau Rena.
“Lo mau kemana?”
“Ya nganterin lo lah sampai depan kelas.” Jawab Raka
“nggak usah! Gue bisa sendiri. Sana cepetan masuk kelas sendiri sana!” jawab Rena dengan cuek.
“Iyadeh, tapi lo nanti kalo pulang tungguin gue ya!!”
             “Teng Teng Teng” bel pulang sudah berbunyi dan Raka sudah menunggu rena keluar dari kelasnya. Rena pun keluar dari kelasnya dan segera ingin meninggalkan Raka sendiri. Raka memang sudah terbiasa menyikapi sikap Rena yang sangat cuek kepadanya. Dia tidak pernah putus asa bersahabat dengan Rena, justru Raka malah menaruh hati pada Rena. Pada hari itu, Raka memutuskan untuk mengajak jalan jalan Rena sepulang sekolah.
“Rena? Jalan jalan yuk!”
“kapan?”
“tahun depan, sekaraaaang lah Rena ...”
“enggak mau, nggak mau gue kalo jalan jalannya naik mobil.”
“please, sekali ini aja kok”
“okeh gue turutin, tapi beliin gue es krim, balon, sama keripik kentang.”
“oke siap my princes”
Setelah membeli semua keinginan Rena, mereka berjalan ke arah tujuan akhir yaitu ‘cafe parody’. Kafe itu adalah satu satunya kafe favorit Rena yang menjual macam macam icecream. Suasana kafe disana bak seperti taman yang indah, yang dipenuhi oleh kupu kupu dan bunga tulip. Seperti biasa, disana Rena hanya memesan satu porsi ice cream untuk dirinya sendiri, karena Raka   memang tidak suka ice cream. Namun pada saat itu, Raka bersikap tak seperti biasanya.
“Rena? Kok lo cuma pesen satu doang?” ujar Raka
“yakan biasanya kita kalo kesini Cuma mesen satu buat gue doang.”
“yaaa gue kan mau kali.” Jawab Raka
“lo mauuuu? Kesambet apaan lo suka ice cream? Yadeh gue pesenin yaa.”
“eee enggak usah deh, gue satu porsi sama lo aja. Boleh kagak?”
“eee boleh deh, ntar gue mintain sendok lagi.” Sahut Rena.
Mereka pun memakan ice cream bersama, bercanda bersama di kafe tersebut. Hingga tak terasa waktu menunjukkan pukul 5 sore, mereka masih bercanda tawa. Disana, Rena tak terlihat cuek sama sekali kepada Raka. Raka pun merasa bahagia dan Raka merasa bahwa inilah saat yang pas untuk mengungkapkan perasaannya pada sahabatnya itu.
“Rena?”
“emmm iya? Kenapa mau lagi ice cream nya? Enak kan? Hahaaa kasian deh loh baru nyoba ice cream sekali ini doang.”
“bukan ice cream!” jawab Raka dengan agak kesal.
“teruuuuusss???”
“Rena, ini gue serius. Please ini gue serius. Gue saa ... saa ... sayang sama lo. Gue sayang sama lo lebih dari hubungan persahabatan kita. Please would you be my girl?” Kata Raka dengan sedikit gugup.
“oke, kasih aku waktu buat ngejawab pertanyaan lo ini. please anter gue pulang sekarang.” Jawab Rena.
“ta .. ta .. tapi icecreamnya belum habis!!” sambil berlari menyusul Rena didepan.
Tak seperti biasanya, canda tawa yang ada dimobil berubah seketika menjadi hening seperti tidak ada kehidupan didalamnya. Sesampai dirumah Rena, Rena langsung bergegas masuk kerumah tanpa harus berkata sesuatu pada Raka. Raka pun memaklumi hal tersebut. Mungkin ini adalah salah satu resiko dari perkataannya tadi. Belum berlalu meninggalkan rumah Rena, Raka pun segera mengambil handphonenya dan menekan tombol tombol huruf sampai membentuk sebuah kalimat “Rena, maafin gue. Gue nggak punya maksud apa apa. Gue cuma mau bilang kalo gue bener bener berniat jadi cowok lo. Cowok yang bisa jagain lo setiap hari setiap saat. Kalo lo nggak kasih jawaban juga nggak papa. Gue Cuma berharap persahabatan kita masih utuh udah gitu aja.” Dan menekan tombol enter agar segera masuk pada daftar kotak masuk handphone Rena.
Dua hari berlalu, Rena tak juga memberi jawaban pada Raka. Mereka masih sama seperti biasanya. Berangkat bersama kesekolah, namun kali ini tanpa ada satu kalimat muncul dari satu sama lain. Hening, jauh lebih hening dari hari hari sebelumnya yang mereka lalui bersama. Rena masih bingung ingin menjawab bagaimana pertanyaan Raka. Rena hanya bisa diam, dan diam.
Empat hari kemudian, Rena memutuskan untuk menjawab pertanyaan dari Raka seminggu yang lalu. Rena meminta Raka menjemputnya untuk berangkat ke sekolah naik motor bersama sama. Raka pun menuruti kemauan Rena. Entah mengapa, sepulang sekolah Rena meminta Raka untuk mengantarkannya ke taman kota. Dengan senang hati, Raka pun mengantarkan Rena. Disana Rena yang memulai untuk pertama kalinya pada hidupnya.
“eee ...  Raka? Lo sayang sama gue?” Tanya Rena dengan nada rendah.
“gue sih masih sayang banget ke lo. Tapiiii kalo lo eee .. lupain juga nggak papa deh.” Ujar Raka.
“eee enggak ... enggak gitu nya. Gue cuma mau bilang IYA GUE JUGA SAYANG BANGET SAMA LO.”
“serius loh Ren??? Gila gue nggak nyangka sama sekali. lo beneran sayang sama gue? Serius?”
“serius Raka, gue serius sayang sama lo nyaaaaa .. !!”
“jadi? Kita?”
“ya terserah lo nya aja. Udah, kita pulang yuk.”
“lo nggak mau makan ice cream?”
“enggak, gue nggak mau bikin alergi lo kumat.”
“oke kita pulang.”
Setelah Rena menjawab semua pertanyaan Raka, Raka pun melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Mungkin itu adalah ungkapan kegembiraannya saat Rena telah menjawab semua pertanyaan Raka dengan pasti. Tanpa disadari, Raka pun menerobos lampu merah yang ada di perempatan dekat rumah Rena. Dan seketika itu, ada sebuah truk yang melaju dengan kencang dari arah barat. Raka pun menabrak bagian tengah Truk. Dan seketika itu juga mereka berada dirumah sakit.
“duh gue dimana? Loh mana Raka?”
 “maaf mbak, tadi anda dan teman anda mengalami kecelakaan. Dan teman anda berada di ruang ICU.“
“gimana keadaannya? Saya mau lihat, antar saya kesana sekarang!!”
Sesampainya disana, Rena sudah mendapati bahwa Raka terbujur kaku dengan monitor detak jantung telah menunjukkan garis lurus. Dokter disana sudah menyatakan bahwa Raka meninggal dunia. Tak kuasa Rena pun menangisi semua peristiwa ini. Rena tak bisa percaya bahwa Raka telah tiada meninggalkannya untuk selamanya. Tiba tiba muncul sebuah pesan singkat di handphone Rena yang masih dipegangnya sedari tadi. Sungguh tak percaya pesan itu adalah pesan dari Raka yang baru masuk ke daftar kotak masuk nya. Rena pun segera membuka dan membaca pesan yang berisi “Rena, maaf kalo selama ini gue punya salah sama lo. Gue sayang banget lo. Gue uda ikhlasin kalo lo nggak ngejawab pertanyaan gue seminggu yang lalu. Maafin gue ya Rena.”  
“gue juga sayang banget sama lo. Gue juga minta maaf udah ngegantungin lo.” Ucap Rena dalam hati sambil mengusap air yang tak kunjung reda keluar dari matanya yang indah.


Karya : Berliana Okta
Facebook : Berliana Okta
Twitter : @Oya_nha

Tidak ada komentar:

Posting Komentar